Jumat, 04 Oktober 2013

Memacu Anak untuk Membaca

 Memacu anak untuk membaca sebenarnya mudah. Dengan membuat anak faham pada inti dari sebuah bacaan yang dibacanya. Dengan penerangan kata yang mudah dijangkau. Membuat tema pembicaraan bacaan yang seru setelah membaca. Membuat anak berfikir positive, bahwa membaca adalah sesuatu yang menyenangkan. Atau dapat dengan bangganya kita, saat jiwa kekanakan kita nampak. Kita lebih tau dibanding yang lain. Kita mengetahui lebih dulu, pokok pembahasan yang dibincangkan atau didiskusikan. Seenggaknya si anak senang akan hal membaca. Sedikit mempersombongkan diri. Tapi, seperti pepatah padi kian berisi kian merunduk. Pada akhirnya anak akan mengerti. Dan dengan pengertian diri tersebut, anak akan lebih peka. Lebih mengerti, berperasa. Bahwa dalam hidup, kita berbagi. Bersosialisasi. Bahwa kita tak lebih dari mengerti dari pada orang orang yang lebih memahami akan hidup ini.
 Membaca mungkin adalah alat pembantu pentransferan pengetahuan. Yang dengan pemahaman tertentu, kita dapat memahami lebih. Mengerti dalam sudut sudut yang berbeda. Dari sumber sumber bacaan yang bebeda namun seragam. Contoh kecil, membaca tentang psikologi dari buku pengarang si A, yang menjelaskan tentang perasaan manusia berdasarkan hormon. sedangkan menurut pengarang si B, perasaan manusia oleh watak manusia itu sendiri. Sedangkan menurut pengarang si C, perasaan manusia dapat dilihat dari lingkungan sekitarnya. Dari contoh tersebut, bisa ditarik inti dari bacaan tersebut. bahwa memang benar hormon dalam tubuh manusia juga penting dalam membentuk karakter masing masing orang. Namun, bila perkembangan hormon tersebut dapat dinetralisir dengan watak atau sifat yang lebih dominan untuk mengerti, maka tak dapat dipungkiri seseorang dapat menarik diri untuk tidak terus mengikuti. Namun, perananan lingkungan sekitar tetap mempengaruhi perasaan orang tersebut. menentukan "badmood" atau "godmood"nya pribadi seseorang tersebut.

Kamis, 03 Oktober 2013

Keterbatasan Minat Baca Pada Anak Anak

 Dewasa ini, di Indonesia banyak sekali ditemukan anak anak usia SD yang malas untuk membaca. Bahkan untuk membaca demi untuk menjawab pertanyaan yang ada pada LKS pemberian sekolah. Banyak yang menjawab pertanyaan dengan dikhayal atau bertanya pada yang lebih tau tanpa mau membaca dulu apa penyebab terjadinya pertanyaan tersebut. Ketika ditnya mengapa dia malas membaca, dia menjawab bahwa soal yang di LKS tidak ada dalam buku paket, tidak ada dalam keterangan bapak atau ibu guru, dan lain sebagainya. Yang menyebabkan malasnya seorang anak untuk berfikir. Mereka fikir, Toh apa yang mereka dapat dalam sekolah hanya sebatas bualan yang dengan bisa atau tidak bisanya mereka menjawab, berfikir kritis, aktif dalam segala bidang mereka dapat dengan mudahnya naik ke tingkat selanjutnya. Atau dalam kata lain, bisa mudah naik kelas selanjutnya.
 Kurangnya minat baca ini, walaupun sepele (membaca jawaban atas pertanyaan dari LKS) dapat membawa pengaruh negative bagi anak tersebut ke depannya. Misalnya menganggap mudah pada peristiwa atau pembelajaran yang dihadapkan pada mereka. Oleh karena itu, ada baiknya kita menggerakkan kembali minat baca pada anak anak. Dengan menunjukkan bacaan bacaan yang menarik. Pembelajaran yang bergambar atau dengan animasi animasi yang membuat seorang anak minat untuk membaca.