Kamis, 26 Desember 2013

DEMOKRASI




            Peluh peluh sang buruh menetes membuat aliran anak sungai diwajah tuanya. Memaksakan sejuta harapan untuk tenang diusia senjanya. Namun tidak ada hukum itu berlaku pada dirinya. Dia harus tetap bekerja. Bila masih ia inginkan sesuap nasi untuk mengganjal perut kempisnya. Dan juga beberapa perut yang gendut membuncit namun tubuhnya ringkih. Itu sebuah potret suram seorang buruh tua dipelosok terpencil di Indonesiaku yang kulihat dari layar kaca disalah satu stasiun televisi dirumahku.
            Kembali ku tanyakan dalam hatiku, sebuah berita yang menurut ukuran orang menengah dianggap biasa. Namun, bagaimana ekspresi dari orang menengah ke atas. Apakah masih berdiam diri melihat keadaan pilu yang tengah terjadi. Tetap duduk dengan angkuhnya dikursi singgasana bak raja dalam dongeng belaka. Demokrasi macam apa ? yang ditawarkan Indonesiaku terhadapnya. Pada buruh buruh senja yang hanya untuk sesuap nasi, dia relakan tubuhnya mengangkat pecahan batu dari perut gunung menuju kebawah. Itupun hanya berupah seperpersen kecil dari uang saku anak anak orang kalangan menengah keatas.
            Mungkin hati mereka belum terbuka. Untuk meluangkan sedikit uang mereka. Padahal hal itu dalam agama telah diajarkan. Sebagian rizki berlimpah dikaya, ada sedikt rizki bagi mereka kaum dhu’afa. Namun aku sangat kagum kepada mereka. Dengan kesulitan ekonomi yang memang diambang batas garis kemiskinan itu. Mereka tak mengeluh. Mereka tak mengemis meminta. Tapi mereka berusaha. Berusaha sebisa yang mereka bisa. Walau harus dengan menukarkan nyawanya. Tak bisa ku bayangkan, jalan setapak yang mereka lalui dengan menngendong pecahan batu dipunggungnya. Apa tidak terpereset ketika mereka tak lihai dalam mengatur posisi jalan mereka. Apabila hal itu terjadi, apa mereka tidak jatuh kebawah. Yang didalamnya terdapat jurang menganga. Siapa yang akan mengurus perut perut busung lapar putra putri serta cucunya. Apakah ada biro yang mengurusi asuransi jiwanya.
            Kekejaman apalagi yang tak kau rasa. Ketika anak cucu mereka menanti dirumah. Menunggu dengan muka polosnya. Bahwa akan ada harapan perut buncit mereka termasuki sesuap nasi. Namun orang yang dinantinya tak kunjung kembali. Demokrasi seperti apa yang digembor gemborkan di Indonesiaku ini. Menyakitkan merasakannya. Namun lebih menyakitkan bial menahannya. Sejenak berdiamlah. Renungilah semua fakta fakta yang ada. Dapatkah kau nikmati makanan yang kau beli dengan cuma cuma dengan uang saku yang kau punya. Yang bagi mereka, itu adalah hasil terbesar dari kerja kerasnya.
            Mungkin akan sedikit rancu. Apabila masih kau nikmati makananmu tanpa kau lihat sekelilingmu. Orang tua yang bekerja keras menyekolahkanmu. Sedangkan anak anak mereka tetap seperti itu. Dan akan terus meneruskan usaha yang dilakukan para pendahulunya. Yang entah meninggal dalam kecelakaan kerja. Atau meninggal dalam kesakitan setelah lama tenaga mereka dibutuhkan dengan harga yang sangat murah.

AKU DAN SEJUTA HARAPANKU




            Entah apa yang ada difikiranku. Ketika ku lihat seorang guru pada masa lalu. Melihat gigihnya guruku mengajariku. Seketika itu aku tahu bahwa menjadi seorang guru adalah pilihan tersulit. Berbakti tanpa pamrih. Mengajari dengan ikhlas berbagi. Setelah itu, aku tahu. Itu adalah sebuah tekadku.
            Namaku Siti Rachma Wati Achsan. Keinginan masa kecilku adalah menjadi seorang guru. Entah apa yang ada difikiranku. Melihat guru TK mengajari teman temanku. Oh iya, aku masuk TK dulu aku beda dengan teman sebayaku. Ketika teman temanku baru belajar memulai dari membaca abjad, aku sebelum masuk TK pun sudah menghafalnya. Ketika teman temanku belajar tentang penjumlahan pengurangan, aku dengan santainya hnya bertopang dagu karena buku pekerjaanku telah ada dimeja guru. Aku telah bisa lebih dulu.
            Menginjak usia anak anak sesungguhnya, aku memulai masuk pada sekolah MI lanjutan dari sekolah TK ku dulu. Dari beribu masalah yang menimpaku, aku down untuk belajar menjadi nomer satu. Fakta fakta tentang orang tuaku, yang membuat beban dalam fikiranku. Pada saat kelas 3 MI, aku putuskan untuk keluar dan melanjutkan pendidikanku disebuah pesantren. Dari rasa iri oleh kakak perempuanku, aku belajar untuk maju. Aku dendam pada ayahku. Dan cara membalas dendam itu, ingin ku buktikan dengan prestasiku.
            Namun apa yang aku harapkan tak kunjung jadi kenyataan. Dengan ayah yang selalu memilih menyayangi kakak perempuanku, semua usaha dan kerja kerasku berbuah sia sia. Aku dianggap hanya angin lalu. Dan prestasi yang aku tunjukkan untuk membalaskan dendamku, membuatku hanya tertunduk lesu. Nilai raport yang bagus dan ranking 4 dalam EBTANAS kelas 6 ku, hanya dianggap angin lalu.
            Menginjak usia labil, masih tetap dipesantren. Aku sedikit demi sedikit menurun tentang prestasiku. Dan cita cita masa kecilku, seperti hilang terhapus waktu. Guru, bagiku hanya semu. Karena aku mulai tak lagi percaya tentang ilmu. Prestasi prestasi yang aku dapat waktu MI, serasa cerita masa lalu ketika aku memasuki usia SMP ku. Sewaktu itu, ku rubah keinginan menjadi seorang guru. Aku ingin menjadi pemadam kebakaran yang dapat menolong sesama. Walau tidak dengan ilmu, tapi dengan tenagaku. Ingin ku tolong sesamaku dengan itu.
            Semakin dewasa, seribu masalah memburuku. Semakin terpuruk aku dengan keadaanku. Terpaan fitnah menghantamku. Dan aku harus memutuskan untuk keluar dari pesantrenku yang dulu. Bayangan seorang guru. Serasa hanya ada dimasa kecilku. Ketika aku dapatkan fitnahan keji seorang guruku kepadaku. Aku pasrah akan semua takdirku. Aku mulai melihat guru hanya dengan sebelah mataku.
            Setelah keluar dari tempat terkutuk itu, aku lanjutkan pendidikan ku ditempat yang baru. Kembali, lagi lagi itu adalah pesantren. Sebuah tempat yang menampungku selama 9 tahun berlalu. Karena aku, merasa rumah adalah neraka bagiku. Berjuta rasa tersiksa tersedia ditempat itu. Oleh karena itu, tak lagi ku fikirkan lagi tempat itu. Dan lagi lagi ku dapatkan nasib sial menimpaku. Aku dihadapkan pada masalah masalah yang ada dipesantren itu. Guru yang hanya memanfaatkan jiwaku. Hanya untuk ambisi yang ingin didapatkanya. Dari jiwa buka raga. Apa yang kau rasa bila kau ada ditempatku berada ?.
            Aku mulai lelah. Dan bayangan cita cita seorang guru, kembali mengundangku. Mengajakku untuk kembali menjadikannya bagian dari hidupku. Mengajarkanku untuk menjadi seorang guru yang harus tak ada cela ketika mengajarkan terhadap muridku. Setelah lulus dari tempatku menimba ilmu. Aku harus melanjutkan ke jenjang yang harus aku tempuh. Yang diwajibkan oleh negaraku. Yaitu perguruan tinggi. Aku melanjutkan studyku dikotaku. Kembali ke kotaku dengan harapan kosong semu.
            Kembali ku rasakan tempat rasa sakit itu. Dengan harapan, aku menjadi seorang guru dengan segala kengkangan yang ada disekitarku. Guru. Nama itu kembali menyergapku. Menjadikan cambuk dikehidupanku. Aku mengambil fakultas keguruan dalam hidupku. Mencari jalan untuk menuju menjadi seorang guru. Awalnya aku inginkan menjadi guru bahasa Indonesia. Namun aku tak diterima di PTN yang aku inginkan untuk menjadi sebuah tempatku menapaki impianku.
            Aku diterima di fakultas keguruan. Namun bukan yang aku inginkan. Hanya alternatif dari inginku yang sesungguhnya. Dan mau tak mau aku harus menerimanya. Dan mulai menjalani tanpa merasa itu adalah bermakna. Namun, ketika ku lihat wajah wajah polos murid lesku, semangatku kembali tumbuh. Ternyata guru adalah sesuatu yang baik untuk dilakukan. Memberi tanpa pamrih. Mengajari dengan ikhlas memberi.  Lalu ku lalui dengan tanpa beban dihati.
            Tahun tahun yang aku lalui mungkin akan semakin memberatkanku. Namun aku tak pernah tau. Aku titipkan semua takdirku ke penciptaku. Akan aku lakukan semampuku. Sebisaku. Yang aku tahu, aku hanya inginkan sebuah cita cita masa kecilku, harus ada digenggaman tanganku. Karena guru, adalah ambisi yang tak ku sadari didalam hidupku.
            Semoga ditahun kelulusanku, dapat ku genggam mimpiku. Menjadikanku seorang guru. Yang telah lama jadi ambisiku.  Ambisi terpendam lama yang ada dihidupku. Ketika semua telah selesai dan aku menjadi guru, akan kubaktikan seluruh hidupku hanya untuk Indonesiaku. Menjadikan tunas tunas unggul di Indonesiaku. Menjadikan gaji pertamaku sesuatu yang aku persembahkan untuk orang tuaku. Gaji pertama ketika aku jadi seorang PNS. Membalaskan dendam dibalik ambisiku. Setelah itu, ku anggap dendamku hilang tersapu waktu.
            Hanya itu harapan demi harapan yang ada dihidupku. Semoga apa yang aku inginkan, didengar oleh penciptaku. Dan Dia akan ridho terhadapku. Harapanku adalah untaian do’a dalam setiap sujudku. Dan apa yang aku inginkan, akan ku usahakan semampuku dan sebisaku. Bantu aku dengan do’a apa yang aku inginkan ya teman ?!. ^_^

Jumat, 04 Oktober 2013

Memacu Anak untuk Membaca

 Memacu anak untuk membaca sebenarnya mudah. Dengan membuat anak faham pada inti dari sebuah bacaan yang dibacanya. Dengan penerangan kata yang mudah dijangkau. Membuat tema pembicaraan bacaan yang seru setelah membaca. Membuat anak berfikir positive, bahwa membaca adalah sesuatu yang menyenangkan. Atau dapat dengan bangganya kita, saat jiwa kekanakan kita nampak. Kita lebih tau dibanding yang lain. Kita mengetahui lebih dulu, pokok pembahasan yang dibincangkan atau didiskusikan. Seenggaknya si anak senang akan hal membaca. Sedikit mempersombongkan diri. Tapi, seperti pepatah padi kian berisi kian merunduk. Pada akhirnya anak akan mengerti. Dan dengan pengertian diri tersebut, anak akan lebih peka. Lebih mengerti, berperasa. Bahwa dalam hidup, kita berbagi. Bersosialisasi. Bahwa kita tak lebih dari mengerti dari pada orang orang yang lebih memahami akan hidup ini.
 Membaca mungkin adalah alat pembantu pentransferan pengetahuan. Yang dengan pemahaman tertentu, kita dapat memahami lebih. Mengerti dalam sudut sudut yang berbeda. Dari sumber sumber bacaan yang bebeda namun seragam. Contoh kecil, membaca tentang psikologi dari buku pengarang si A, yang menjelaskan tentang perasaan manusia berdasarkan hormon. sedangkan menurut pengarang si B, perasaan manusia oleh watak manusia itu sendiri. Sedangkan menurut pengarang si C, perasaan manusia dapat dilihat dari lingkungan sekitarnya. Dari contoh tersebut, bisa ditarik inti dari bacaan tersebut. bahwa memang benar hormon dalam tubuh manusia juga penting dalam membentuk karakter masing masing orang. Namun, bila perkembangan hormon tersebut dapat dinetralisir dengan watak atau sifat yang lebih dominan untuk mengerti, maka tak dapat dipungkiri seseorang dapat menarik diri untuk tidak terus mengikuti. Namun, perananan lingkungan sekitar tetap mempengaruhi perasaan orang tersebut. menentukan "badmood" atau "godmood"nya pribadi seseorang tersebut.

Kamis, 03 Oktober 2013

Keterbatasan Minat Baca Pada Anak Anak

 Dewasa ini, di Indonesia banyak sekali ditemukan anak anak usia SD yang malas untuk membaca. Bahkan untuk membaca demi untuk menjawab pertanyaan yang ada pada LKS pemberian sekolah. Banyak yang menjawab pertanyaan dengan dikhayal atau bertanya pada yang lebih tau tanpa mau membaca dulu apa penyebab terjadinya pertanyaan tersebut. Ketika ditnya mengapa dia malas membaca, dia menjawab bahwa soal yang di LKS tidak ada dalam buku paket, tidak ada dalam keterangan bapak atau ibu guru, dan lain sebagainya. Yang menyebabkan malasnya seorang anak untuk berfikir. Mereka fikir, Toh apa yang mereka dapat dalam sekolah hanya sebatas bualan yang dengan bisa atau tidak bisanya mereka menjawab, berfikir kritis, aktif dalam segala bidang mereka dapat dengan mudahnya naik ke tingkat selanjutnya. Atau dalam kata lain, bisa mudah naik kelas selanjutnya.
 Kurangnya minat baca ini, walaupun sepele (membaca jawaban atas pertanyaan dari LKS) dapat membawa pengaruh negative bagi anak tersebut ke depannya. Misalnya menganggap mudah pada peristiwa atau pembelajaran yang dihadapkan pada mereka. Oleh karena itu, ada baiknya kita menggerakkan kembali minat baca pada anak anak. Dengan menunjukkan bacaan bacaan yang menarik. Pembelajaran yang bergambar atau dengan animasi animasi yang membuat seorang anak minat untuk membaca.