Peluh peluh sang buruh menetes membuat aliran anak sungai diwajah tuanya.
Memaksakan sejuta harapan untuk tenang diusia senjanya. Namun tidak ada hukum
itu berlaku pada dirinya. Dia harus tetap bekerja. Bila masih ia inginkan
sesuap nasi untuk mengganjal perut kempisnya. Dan juga beberapa perut yang
gendut membuncit namun tubuhnya ringkih. Itu sebuah potret suram seorang buruh
tua dipelosok terpencil di Indonesiaku yang kulihat dari layar kaca disalah
satu stasiun televisi dirumahku.
Kembali ku tanyakan dalam hatiku, sebuah berita yang
menurut ukuran orang menengah dianggap biasa. Namun, bagaimana ekspresi dari
orang menengah ke atas. Apakah masih berdiam diri melihat keadaan pilu yang
tengah terjadi. Tetap duduk dengan angkuhnya dikursi singgasana bak raja dalam
dongeng belaka. Demokrasi macam apa ? yang ditawarkan Indonesiaku terhadapnya.
Pada buruh buruh senja yang hanya untuk sesuap nasi, dia relakan tubuhnya
mengangkat pecahan batu dari perut gunung menuju kebawah. Itupun hanya berupah
seperpersen kecil dari uang saku anak anak orang kalangan menengah keatas.
Mungkin hati mereka belum terbuka. Untuk meluangkan
sedikit uang mereka. Padahal hal itu dalam agama telah diajarkan. Sebagian
rizki berlimpah dikaya, ada sedikt rizki bagi mereka kaum dhu’afa. Namun aku
sangat kagum kepada mereka. Dengan kesulitan ekonomi yang memang diambang batas
garis kemiskinan itu. Mereka tak mengeluh. Mereka tak mengemis meminta. Tapi
mereka berusaha. Berusaha sebisa yang mereka bisa. Walau harus dengan menukarkan
nyawanya. Tak bisa ku bayangkan, jalan setapak yang mereka lalui dengan
menngendong pecahan batu dipunggungnya. Apa tidak terpereset ketika mereka tak
lihai dalam mengatur posisi jalan mereka. Apabila hal itu terjadi, apa mereka
tidak jatuh kebawah. Yang didalamnya terdapat jurang menganga. Siapa yang akan
mengurus perut perut busung lapar putra putri serta cucunya. Apakah ada biro
yang mengurusi asuransi jiwanya.
Kekejaman apalagi yang tak kau rasa. Ketika anak cucu
mereka menanti dirumah. Menunggu dengan muka polosnya. Bahwa akan ada harapan
perut buncit mereka termasuki sesuap nasi. Namun orang yang dinantinya tak
kunjung kembali. Demokrasi seperti apa yang digembor gemborkan di Indonesiaku
ini. Menyakitkan merasakannya. Namun lebih menyakitkan bial menahannya. Sejenak
berdiamlah. Renungilah semua fakta fakta yang ada. Dapatkah kau nikmati makanan
yang kau beli dengan cuma cuma dengan uang saku yang kau punya. Yang bagi
mereka, itu adalah hasil terbesar dari kerja kerasnya.
Mungkin akan sedikit rancu. Apabila masih kau nikmati
makananmu tanpa kau lihat sekelilingmu. Orang tua yang bekerja keras
menyekolahkanmu. Sedangkan anak anak mereka tetap seperti itu. Dan akan terus
meneruskan usaha yang dilakukan para pendahulunya. Yang entah meninggal dalam
kecelakaan kerja. Atau meninggal dalam kesakitan setelah lama tenaga mereka
dibutuhkan dengan harga yang sangat murah.